WartaParahyangan.com
JAKARTA – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menegaskan pentingnya memperkuat daya tahan bangsa sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk kemungkinan konflik berskala besar di masa depan.
Gubernur Lemhannas, Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyatakan bahwa ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga menyangkut kesiapan ekonomi, pangan, energi, serta persatuan sosial masyarakat.
“Ketahanan nasional harus dipandang secara menyeluruh. Negara yang kuat bukan hanya yang memiliki persenjataan, tetapi yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, ketersediaan pangan, dan solidaritas sosial dalam situasi krisis,” kata Tubagus Ace Hasan Syadzily dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (11/2/2026)
Menurut dia, perkembangan situasi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan meningkatnya ketegangan antarnegara, persaingan sumber daya, serta perubahan lanskap keamanan dunia yang tidak dapat diabaikan.
“Kita tidak sedang meramalkan perang, tetapi mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk. Kesiapsiagaan adalah bagian dari tanggung jawab negara,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut.
Kang Ace, begitu ia akrab disapa, menambahkan, Indonesia memiliki modal sosial yang besar berupa semangat gotong royong dan persatuan yang perlu terus dirawat sebagai fondasi daya tahan bangsa. “Persatuan nasional adalah benteng pertama. Tanpa kohesi sosial, kekuatan apa pun menjadi rapuh,” katanya.

Lemhannas juga mendorong penguatan kebijakan strategis di bidang ketahanan pangan dan energi, yang dinilai menjadi faktor penentu dalam menghadapi krisis global. Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap pasokan luar negeri, menurut lembaga tersebut, dapat menjadi kerentanan serius ketika terjadi gangguan rantai pasok internasional.
Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas dan aktif, serta berupaya menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan.
“Indonesia harus tetap menjadi kekuatan penyeimbang yang mendorong perdamaian. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh lengah dalam memperkuat daya tahan nasional,” tegasnya.
Pernyataan Lemhannas tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian global terhadap potensi konflik antarnegara, perubahan aliansi strategis, serta persaingan ekonomi dan teknologi yang semakin tajam di berbagai kawasan dunia.
Bagi para pengkaji ketahanan nasional, kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk bukanlah sikap pesimistis, melainkan bentuk kewaspadaan rasional yakni sebuah upaya menjaga agar bangsa tetap berdiri tegak dalam dunia yang terus berubah dengan cepat dan sering kali tak terduga.
Asep R. Rasyid











