LPHD Ciloto Raih Juara 1 Wana Lestari Nasional, Bupati Cianjur Sebut Mereka Pahlawan Hutan

WartaParahyangan.com

CIANJUR – Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ciloto, Kabupaten Cianjur, yang telah meraih Juara 1 Wana Lestari Tingkat Nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri kegiatan Sekolah Lapang Perhutanan Sosial di areal LPHD Ciloto, Kabupaten Cianjur, Sabtu (15/8/2026). Dalam kegiatan ini hadir antara lain Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI, Catur Endah Prasetiani.

Bupati menilai penghargaan tersebut menjadi bukti nyata atas komitmen dan kerja keras masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan di Kabupaten Cianjur.

“Alhamdulillah, pagi ini saya mendengar kabar bahwa LPHD Ciloto meraih terbaik 1 dalam penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional sebagai Pahlawan Hutan. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa bagi kami,” ujar dr. Wahyu.

Ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menjaga dan mengelola hutan secara berkelanjutan.

Selain itu, Bupati juga mengapresiasi kunjungan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI ke Kabupaten Cianjur serta rencana penanaman 11.000 pohon sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian lingkungan dan menjaga keberlanjutan kawasan hutan di Cianjur.

“Terima kasih kepada Bu Dirjen yang sudah mampir ke Cianjur dan berencana menanam 11.000 pohon di Cianjur. Semoga alam kita terus terjaga. Salam lestari!” ucap Bupati Cianjur.

Ia juga berharap kegiatan Sekolah Lapang Perhutanan Sosial semakin memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan hutan, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lestari dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Cianjur.

Sebelumnya, sembilan Forest Heroes Perhutanan Sosial penerima Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026. Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Dikutip dari kehutanan.go.id, ke 9 penerima penghargaan itu berasal dari tiga skema Perhutanan Sosial, yaitu Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, dan Hutan Adat.

Pada skema Hutan Desa (HD), Terbaik I diraih LPHD Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Terbaik II diraih Lembaga Desa Wisata Wills Sejahtera, Madiun, Jawa Timur, sedangkan Terbaik III diraih LPHD Mesale, Poso, Sulawesi Tengah.

Pada skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), Terbaik I diraih HKm Tuah Sejati, Aceh Besar, Aceh. Terbaik II diraih HKm KTH Satria Mandiri, Cianjur, Jawa Barat, dan Terbaik III diraih HKm Kelompok Tani Cinta Mangrove, Batu Bara, Sumatera Utara.

Pada skema Hutan Adat (HA), Terbaik I diraih Hutan Adat Larangan Mude Ayek Tebat Benawa, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Terbaik II diraih Hutan Adat Ketemenggungan Tae, Sanggau, Kalimantan Barat, dan Terbaik III diraih Hutan Adat Bukit Demulih, Bangli, Bali.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, Penghargaan Wana Lestari tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Praktik terbaik yang telah dibuktikan para pejuang hutan di tingkat tapak harus dipelajari, diadopsi, dan direplikasi secara nasional.

“Para pemenang adalah pusat pembelajaran (center of excellence). Saya minta profil dan praktik baik dari para teladan ini didetailkan agar dapat kita pelajari dan replikasi di tempat lain,” tegas Raja Juli Antoni.

Menurut Menhut, keberhasilan pengelolaan hutan di tingkat tapak harus menjadi penggerak transformasi hutan lestari di seluruh Indonesia. “Keberhasilan tersebut setidaknya tercermin melalui tiga ukuran nyata, yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat, konservasi biodiversitas, serta penurunan emisi karbon,” katanya.

Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani. Ia berharap, para penerima Penghargaan Wana Lestari tidak berhenti sebagai teladan dalam pengelolaan hutan, tetapi akan menjadi tempat belajar bagi kelompok Perhutanan Sosial lainnya melalui sekolah lapang.

“Praktik baik mereka akan menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok Perhutanan Sosial lainnya melalui sekolah lapang, sehingga pengalaman yang telah terbukti di tingkat tapak dapat dipelajari dan dikembangkan di tempat lain,” ujarnya.

Pembelajaran tersebut akan diawali di LPHD Ciloto, Cianjur, Jawa Barat, penerima Terbaik I kategori Hutan Desa. Para penerima penghargaan dari berbagai daerah akan belajar bersama mengenai praktik pengelolaan hutan sekaligus berbagi pengalaman, inovasi, dan pembelajaran yang telah dikembangkan di wilayah masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, Penghargaan Wana Lestari tidak berhenti sebagai apresiasi tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya memperluas praktik baik pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Asep R. Rasyid