WartaParahyangan.com
CIANJUR – Minat masyarakat terhadap keris sebagai pusaka budaya Nusantara kini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Fenomena ini tidak hanya terlihat di kota-kota besar, tetapi juga mulai menggeliat di daerah, termasuk Kabupaten Cianjur.
Hal itu menjadi angin segar bagi para pelaku usaha sekaligus pecinta budaya tradisional Indonesia. Salah satunya Abah Bagas (65), seorang pedagang yang lapak dagangannya berada di samping pintu masuk Stasiun Kereta Api Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur.
Abah Bagas sebelumnya dikenal pedagang batu akik atau cincin. Kini ia memutuskan banting setir menjadi penjual keris. Karena ia beranggapan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap benda pusaka seperti keris, bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari kebangkitan kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah dan budaya.
“Melihat fenomena sekarang di dunia perkerisan, dari segi pemasaran ini cukup bagus dan sangat menjanjikan. Saya juga mencari barang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Surakarta (Solo), dan beberapa wilayah lain di Jawa Tengah,” ujar Abah Bagas saat ditemui di lapaknya, Senin (6/4/2026).
Ia menyebutkan, keuntungan dari penjualan keris tergolong tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 50-60 persen, sehingga hal itu menjadi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan bagi para pelaku usaha di bidang tersebut.
Konsumen yang datang ke lapaknya juga tidak hanya berasal dari sekitar Ciranjang, tapi juga datang dari daerah lain di Cianjur, bahkan banyak pula dari Bandung dan luar Jawa, seperti Sumatera.
Menurut Abah Bagas, saat ini para pembeli keris semakin selektif. Mereka tidak hanya membeli dari segi bentuk, tetapi juga mempertimbangkan makna, filosofi, serta bahan dasar keris tersebut.
“Banyak konsumen yang melihat dari segi besi, sepuh, dan juga nilai historisnya. Bahkan ada juga yang mencari keris tertentu yang belum mereka dapatkan sebelumnya,” jelas Abah Bagas.
Ia berharap tren tersebut terus berkembang dan membawa dampak positif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam pelestarian budaya bangsa.
“Ini menjadi simbol bahwa peradaban kita masih dihargai. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dan budaya aslinya. Dengan meningkatnya minat terhadap keris, kita ikut melestarikan pusaka asli Indonesia,” katanya.
Asep R. Rasyid

















