WartaParahyangan.com
CIANJUR – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Cianjur relatif rendah apabila dibandingkan dengan rata-rata Kab/Kota lainnya di Jawa Barat. Berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2024 mencatat, angka prevalensi Kabupaten Cianjur berada di angka 7,2 persen.
Capaian tersebut harus tetap dijaga dengan memastikan seluruh layanan dasar stunting bisa dijangkau oleh semua elemen masyarakat, terutama daerah yang sulit di akses.
Wakil Bupati Cianjur Ramzi Geys Thebe, mengatakan bahwa peningkatan kesehatan menjadi salah satu fokus program di Kabupaten Cianjur. Pemkab sendiri menyadari sebagai kabupaten terluas kedua di Jawa Barat, Cianjur menghadapi tantangan pelayanan yang cukup kompleks karena karakteristik wilayahnya beragam, mulai dari kawasan perkotaan hingga daerah sulit akses, dikutip dari stunting.go.id
Sejalan dengan Pemkab Cianjur, Kunjungan lapangan Tim Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (PKPSDM) Sekretariat Wakil Presiden ke Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, mengungkapkan berbagai hambatan nyata.
Meski bukan termasuk daerah 3T, lokasi desa di atas bukit membuat akses ibu hamil ke fasilitas kesehatan menjadi sangat terbatas.
Menghadapi tantangan tersebut Pemkab Cianjur telah menginisiasi sejumlah program inovatif berupa Program JUFE (Jumat Minum FE) dengan fokus pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja dan ibu hamil, Program Si Mamat Ganteng (Aksi Remaja Sehat Cegah Anemia, Obesitas, Stunting).
Kemudian, Program Kecimpring (Kegiatan Cerdaskan Ibu untuk Menurunkan Persentase Stunting), Program Ujang Kalem (USGH Anjang ke Lembur) yang memberikan fasilitas USG keliling bagi ibu hamil di daerah dengan akses yang sulit, dan Program Rumah Tunggu Kehamilan (RTK) di sejumlah wilayah yang sulit diakses.
Galih DR

















