WartaParahyangan.com
BANDUNG – Perum Perhutani Divisi Regional ( Divre) Jawa Barat dan Banten mencatat getah pinus sebagai penyumbang pendapatan terbesar, mengungguli bisnis kayu.
Kasi Utama HHBK Divre Jabar-Banten, Trisna Muliana, menyebutkan core business Perhutani terdiri dari dua sektor, yakni kayu jati dan rimba serta Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
“Yang paling terbesar adalah getah pinus, kemudian kami juga mengelola kopal getah dari pohon damar, juga daun kayu putih. Sekitar 67 persen pendapatan Divre Jawa Barat dan Banten berasal dari getah pinus. Kemudian sisanya kayu, HHBK yang lain, agro dan wisata,” ujar Trisna kepada wartaparahyangan.com, Senin (5/10/2026).
Total luas tegakan pinus siap sadap di wilayahnya mencapai 32.584 hektare yang tersebar di 13 KPH dari 14 KPH yang ada. KPH dengan tegakan terluas yakni Sukabumi, Bandung Selatan, Cianjur, Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya.

Untuk metode sadap, Perhutani tetap menggunakan sistem quare setelah menguji tiga metode. “Ada 3 yang pernah kita coba, pertama quare, kedua bor, dan ketiga metode real. Tapi sampai saat ini Perum Perhutani menggunakan metode quare,” katanya.
Secara nasional, produksi getah tertinggi berada di Jawa Tengah 39.000 ton per tahun, Jawa Timur 29.000 ton per tahun, dan Jawa Barat 19.000 ton per tahun. Produktivitas sangat dipengaruhi iklim, di mana kemarau panjang meningkatkan hasil dan musim hujan menurunkannya.
Sebagai pengelola hulu, Divre Jabar-Banten bertugas memproduksi dan menyadap getah untuk kemudian diolah di pabrik Gondorukem dan Terpentin di Nagreg dan Sindangwangi. Sekitar 70 persen hasil olahan diekspor dan 30 persen untuk domestik, yang menjadi bahan katalis industri plastik, ban, poliester, hingga kosmetik.
Trisna berharap di bawah Pembinaan Badan Usaha Milik Negara (PBUMN), portofolio HHBK terus diperluas ke komoditas lain seperti getah damar dan kemenyan, sehingga prinsip cipta hutan lestari terwujud dengan pohon tetap berdiri namun ekonomi tetap berjalan.
Lily Setiadarma











