Oleh: Saep Lukman,
Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur
SITUS Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kembali menjadi pusat perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Situs megalitik yang sejak lama dikenal sebagai punden berundak itu kini kerap disebut sebagai “piramida tertua di dunia”, bahkan diklaim berusia hingga puluhan ribu tahun—jauh melampaui Piramida Giza di Mesir.
Klaim tersebut beredar luas di media massa dan ruang digital, memancing kekaguman, kebanggaan, sekaligus perdebatan sengit. Namun, di balik hiruk-pikuk tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah klaim-klaim itu benar-benar berpijak pada metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan?
Gunung Padang sejatinya bukan situs baru dalam khazanah arkeologi Indonesia. Catatan mengenai keberadaan undakan batu di puncak gunung ini sudah muncul sejak akhir abad ke-19 melalui laporan R.D.M. Verbeek (1891) dan N.J. Krom (1914). Penelitian arkeologis sistematis dilakukan sejak 1980-an oleh lembaga resmi negara dan terus berlanjut hingga kini. Dari rangkaian penelitian panjang tersebut, satu kesimpulan relatif konsisten: Gunung Padang merupakan situs punden berundak, sebuah bentuk arsitektur ritual khas tradisi megalitik Nusantara.
Kesimpulan ini diperkuat oleh Dr. Lutfi Yondri, arkeolog prasejarah yang terlibat langsung dalam penelitian Gunung Padang sejak 1984 hingga kini. Ia menegaskan bahwa seluruh hasil ekskavasi arkeologis yang sahih menunjukkan fungsi Gunung Padang sebagai punden berundak, bukan bangunan piramida, dan bahwa struktur yang benar-benar bersifat budaya hanya terdapat pada bagian puncak dan teras-terasnya (Yondri, 2025). Menurutnya, bagian bawah gunung didominasi oleh formasi batuan alamiah yang telah mengalami transformasi geologis berulang.
Pandangan ini sejalan dengan arkeolog prasejarah Indonesia Truman Simanjuntak yang menyatakan bahwa tradisi megalitik Nusantara berkembang sebagai ekspresi simbolik dan ritual masyarakat awal, bukan sebagai proyek arsitektur monumental berbasis teknologi tinggi (Simanjuntak, 1997). Dalam kerangka ini, punden berundak dipahami sebagai ruang sakral terbuka yang menghubungkan manusia, leluhur, dan lanskap alam.
Namun, persoalan mulai mengemuka ketika sejumlah penelitian dan narasi populer mengajukan interpretasi yang jauh melampaui temuan arkeologis tersebut. Gunung Padang digambarkan sebagai struktur piramidal raksasa yang terkubur, dibangun sejak 11.000 hingga 27.000 tahun lalu, lengkap dengan “semen purba”, ruang-ruang tersembunyi, dan teknologi konstruksi canggih. Klaim-klaim ini terdengar heroik dan menggugah imajinasi, tetapi justru di sinilah uji kedewasaan akademik kita dimulai.
Geologi tidak Bisa Diabaikan
Secara geologis, Gunung Padang merupakan bagian dari satuan batuan breksi tufa, lava, dan andesit basal berstruktur columnar joint, berumur Pliosen. Struktur kolom-kolom batu yang tampak rapi dan bersudut tajam kerap disalahartikan sebagai hasil pahatan atau teknologi manusia. Padahal, dalam ilmu kebumian, columnar joint adalah fenomena alamiah akibat proses pendinginan magma.
Ahli geologi R.D.M. Bronto menjelaskan bahwa susunan balok-balok andesit di Gunung Padang merupakan hasil proses vulkanik dan pelapukan alamiah, termasuk longsor berulang yang mengganggu lapisan tanah sejak ribuan tahun lalu (Bronto, 2012). Fakta ini krusial karena berkaitan langsung dengan persoalan pertanggalan.
Sementara itu banyak hasil pertanggalan ekstrem yang sering dikutip publik sesungguhnya berasal dari lapisan tanah yang telah mengalami pembalikan stratigrafi akibat longsor, sehingga tidak dapat digunakan untuk menafsirkan umur bangunan (Yondri, 2025). Dalam arkeologi, tanggal tanah atau sedimen tidak otomatis menjadi tanggal struktur budaya.
Sebab pada prinsipnya, arkeologi seperti keilmuan lain tentu tidak bekerja untuk sekedar sensasi, melainkan selalu pada konteks. Ekskavasi arkeologis di Gunung Padang menunjukkan bahwa struktur yang dapat dipastikan sebagai hasil aktivitas manusia berada pada lapisan budaya yang relatif muda, sekitar awal milenium sebelum Masehi. Temuan berupa batu pipisan, gandik, fragmen tembikar, serta arang sisa pembakaran di bawah dinding teras menunjukkan aktivitas ritual dan domestik yang lazim pada masyarakat megalitik.
Dr. Lutfi Yondri menekankan bahwa dalam arkeologi, konteks lebih penting daripada bentuk visual. Struktur yang tampak masif atau teratur tidak otomatis merupakan hasil teknologi manusia, jika tidak didukung oleh konteks stratigrafi, asosiasi artefak, dan bukti aktivitas manusia yang jelas (Yondri, 2025).
Tidak ditemukan bukti teknologi pengolahan batu tingkat lanjut, tidak ada mortar buatan, dan tidak ada sistem konstruksi massif seperti yang dikenal pada piramida Mesir atau bangunan monumental Mesoamerika. Batu-batu di Gunung Padang disusun secara kering (dry masonry), mengikuti kontur alam, dan berfungsi sebagai ruang ritual terbuka.
Mitos “Semen Purba”
Salah satu klaim paling problematik dalam diskursus Gunung Padang adalah keberadaan “semen purba” atau “filler” yang dianggap sebagai perekat batu. Analisis petrografi menunjukkan bahwa lapisan tersebut merupakan hasil pelapukan alami batuan andesit, dikenal sebagai spheroidal weathering.
Dr. Lutfi Yondri secara tegas menyatakan bahwa apa yang disebut “semen purba” dalam sejumlah narasi populer sesungguhnya adalah lapisan pelapukan alami yang salah ditafsirkan, dan penyebutan tersebut tidak memiliki dasar arkeologis maupun geologis yang sahih (Yondri, 2025).
Dalam filsafat ilmu, Karl Popper mengingatkan bahwa teori ilmiah harus dibangun dari data yang dapat diuji dan berpotensi disangkal, bukan dari dugaan yang terus dipaksakan agar sesuai dengan hipotesis awal (Popper, 1959).
Data arkeologi Asia Tenggara menunjukkan bahwa pada rentang 20.000–10.000 tahun lalu, manusia masih hidup sebagai pemburu-pengumpul dan banyak menghuni gua-gua alam. Situs-situs seperti Niah (Serawak), Tabon (Filipina), Leang-Leang (Sulawesi), hingga Pawon (Jawa Barat) memperlihatkan pola hunian gua, bukan arsitektur batu monumental.
Pandangan ini diperkuat oleh laporan Nature yang menegaskan bahwa klaim piramida prasejarah Gunung Padang tidak didukung oleh bukti arkeologis yang memadai dan mengandung persoalan metodologis serius (Lewis, 2023).
Godaan terbesar dalam kasus Gunung Padang adalah nasionalisme romantik yakni sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa peradaban Nusantara adalah yang paling tua dan paling canggih di dunia. Namun, seperti diingatkan Dr. Lutfi Yondri, kebanggaan terhadap masa lalu justru harus diwujudkan melalui kejujuran ilmiah, bukan dengan membangun klaim yang tidak ditopang data (Yondri, 2025).
Penutup
Gunung Padang tidak perlu diubah menjadi piramida purba untuk menjadi luar biasa. Sebagai punden berundak terbesar yang pernah diketahui di Indonesia, situs ini sudah memiliki nilai arkeologis, antropologis, dan filosofis yang sangat tinggi.
Penarikan kembali artikel ilmiah tentang “piramida Gunung Padang” oleh jurnal internasional pada 2023 seharusnya menjadi alarm reflektif. Ilmu pengetahuan hidup dari kejujuran pada data, bukan dari keberanian berspekulasi tanpa kendali.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Gunung Padang adalah piramida tertua di dunia, melainkan: mampukah kita merawat pengetahuan dengan disiplin ilmiah, sekaligus merawat warisan leluhur tanpa menenggelamkannya dalam mitos baru?











