WartaParahyangan.com
BANDUNG – Musim kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah di Indonesia selama dua bulan terakhir berdampak serius di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kondisi ini memicu gagal panen dan krisis air bersih serta air minum di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Pacira (Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali).
Tokoh masyarakat Kabupaten Bandung, Dr. H. Sugianto, S.Ag., M.Si., menyebut dampak kemarau tahun ini paling terasa bagi sektor pertanian dan peternakan.
“Kemarau yang terjadi di tahun ini sangat terasa terutama bagi para pelaku pertanian dan peternakan. Kita lihat barangkali debit air yang terjadi di beberapa mata air sudah mulai berkurang, ini sangat terasa bagaimana air olahan untuk perusahaan daerah air minum juga terasa ada perubahan,” ujar Sugianto kepada wartaparahyangan.com Jumat (7/8/2026).
Menurut Sugianto, dua faktor utama menyebabkan kerugian pada petani. Pertama, berkurangnya debit air sehingga sawah tadah hujan dan sawah basah kekurangan pasokan. Kedua, munculnya hama penyakit yang menyerang tanaman padi.
Sugianto menyoroti persoalan distribusi air yang tidak merata. Ia menilai perlu ada intervensi dari pemerintah agar pengelolaan sumber mata air lebih baik.

“Hal ini tentu perlu adanya intervensi bagaimana pemeliharaan di mata-mata air ini lebih baik. Kita lihat di mata air misalkan ini juga perlu ada pemantauan dan pengawasan dari pemerintahan setempat baik pemerintahan desa, RT/RW, kedusunan karena sumber air yang ada jangan sampai menjadi sumber perselisihan di antara masyarakat,” katanya.
Ia khawatir jika tidak ada pengawasan, kelangkaan air bisa memicu konflik horizontal. “Hari ini banyak keluhan petani di mana banyak para petani besar yang berduit ini dengan mudah begitu saja mendapatkan air sementara petani-petani kecil ini tertinggal. Karena itu perlu ada pengawasan, pemantauan dari pemerintahan setempat supaya potensi air yang ada bisa terkendali dengan baik,” tegasnya.
Meski begitu, Sugianto menyebut untuk wilayah Bandung selatan sumber air masih relatif tersedia. Namun ia tetap meminta kewaspadaan karena kemarau berpotensi berlanjut.
“Kita mewaspadai kemarau yang akan berkelanjutan. Tapi kita mudah-mudahan situasi kondisi khususnya barangkali di wilayah Bandung selatan sumber air masih relatif ada namun tentu ini perlu pemantauan dan pengawasan supaya betul-betul terjaga dengan baik,” katanya.
Pemerintah daerah bersama perangkat desa diharapkan segera melakukan pemetaan titik-titik krisis air dan memperkuat pengawasan distribusi agar kebutuhan petani kecil dan kebutuhan air minum masyarakat dapat terpenuhi.
Lily Setiadarma











