WartaParahyangan.com
BANDUNG – Di tengah gempuran sauna modern dan spa, terapi tradisional Sunda bernama leuhang masih bertahan di sebuah kampung di Kabupaten Bandung. Meski mulai langka, terapi penguapan dengan rempah ini dipercaya masyarakat mampu mengeluarkan racun tubuh dan meredakan berbagai keluhan.
Leuhang sering disebut sebagai alternatif gurah. Cara kerjanya sederhana: tubuh dikukus dengan uap dari rebusan aneka daun dan rempah. Bedanya dengan sauna biasa, uap leuhang berasal dari bahan alami seperti daun salam, sereh wangi, daun pandan, daun cengkeh, daun sirih, dan kayu manis.
Salah satu rumah terapi leuhang yang masih aktif berada di Jl. Cisondari, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Pemiliknya, Yayan Nuryana alias UA, sudah menjalankan usaha ini sejak 2012. Kini tersedia 4 unit tempat leuhang di rumah terapinya.
“Mirip sauna, tapi kita pakai rebusan daun-daunan dan rempah. Uapnya dihirup, badan jadi hangat, keringat keluar, racun ikut kebuang,” ujar UA, Sabtu (11/7/2026).
Menurut pria kelahiran Bandung 2 Februari 1960 itu, peminat leuhang datang dari berbagai daerah. Tidak hanya warga Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Cimahi, tapi juga dari luar kota seperti Cirebon. Bahkan kalangan pejabat hingga anggota dewan di lingkungan Pemkab Bandung disebut rutin datang untuk terapi.

Masyarakat kampung meyakini leuhang bisa membantu mengatasi masuk angin, gejala flu, demam, asam urat, dan reumatik. Uap rempahnya juga dipercaya melancarkan pernapasan sehingga cocok sebagai alternatif bagi yang punya keluhan paru-paru. Efek lainnya, terapi ini diklaim dapat membantu menurunkan berat badan.
“Alhamdulillah banyak yang mengaku badannya jadi ringan. Yang tadinya masuk angin dan sakit badan jadi sembuh,” kata UA.
Satu sesi leuhang berlangsung sekitar 15-20 menit. Uniknya, tarif tidak dipatok. Pengunjung membayar seikhlasnya. Di perkotaan, leuhang kini sulit ditemukan. Bahkan di beberapa kampung pun tradisi ini sudah tidak dilestarikan lagi. Padahal manfaatnya cukup besar bagi kesehatan.
“Pokoknya banyak sekali manfaatnya bagi tubuh. Sayang kalau sampai hilang,” tutup UA.
Lily Setiadarma

















