WartaParahyangan.com
BANDUNG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasca Covid-19 dinilai membawa dampak ganda bagi lansia di Kabupaten Bandung. Program ini menolong, tapi juga menyimpan pekerjaan rumah agar benar-benar memuliakan lansia.
Hal itu diungkapkan Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung, Drs. H. Bambang Budiraharjo, M.Si, pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Dome Balerame Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (4/6/2026).
Menurut Bambang, ada lima dampak positif MBG bagi lansia. Pertama, pemulihan gizi pasca pandemi. Covid-19 meninggalkan “silent hunger” pada lansia: makan cukup tapi kurang protein & mikronutrien. Data Dinkes Kabupaten Bandung 2024 mencatat 7,2% lansia masih gizi kurang. MBG jadi intervensi langsung untuk mengejar defisit itu.
“Lansia sehat itu fondasi keluarga. Kalau eyang kakung-uti kuat, cucu tenang,” ujar Bambang.
Kedua, hemat pengeluaran lansia dhuafa. 1 porsi MBG senilai Rp15-20 ribu. “Bagi lansia di Baleendah, Cileunyi, Margaasih yang hidup dari bantuan anak, ini hemat Rp450-600 ribu/bulan. Uangnya bisa dialihkan untuk obat hipertensi/diabetes rutin,” kata Bambang.
Ketiga, posyandu lansia hidup lagi. “Distribusi MBG lewat Posyandu lansia bikin kunjungan naik pasca Covid. Sekalian ambil makan, lansia langsung cek tensi dan gula darah oleh kader LLI. Deteksi dini PTM jadi lebih cepat,” katanya.

Keempat, mengobati kesepian. Trauma isolasi Covid dijawab lewat “Piring Silaturahmi”. Titik distribusi di desa jadi ruang temu kangen. Lansia tak hanya kenyang, tapi merasa diperhatikan negara.
Kelima, pemberdayaan ekonomi lansia. Bambang mendorong 20% bahan MBG diambil dari KWT Lansia Produktif di Pangalengan, Pacet, Ciwidey. Program gizi sekaligus pasar bagi lansia tani.
Dampak positif MBG bagi lansia tersebut, saat ini belum benar-benar terlihat. Bambang menyebut lima tantangan yang harus dibedah.
Pertama, menu belum ramah lansia. Menu MBG masih “seragam anak sekolah”: nasi banyak, lauk goreng, sayur minim. Padahal lansia butuh tekstur lunak, rendah garam-gula, tinggi kalsium dan serat.
“Jangan sampai niat memuliakan, tapi malah menyakiti. Gizi lansia itu khusus,” tegas Bambang.
Kedua, akses dan mobilitas terbatas. Dengan 31 kecamatan, lansia bed rest di Cimenyan, Ibun, Kertasari sering terlewat. Pengalaman Covid membuktikan yang paling butuh justru paling susah dijangkau. Karena itu, perlu sistem antar ke rumah.
Ketiga, risiko ketergantungan. “Semangat HLUN ke-30 adalah Lansia SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif. MBG tanpa edukasi dikhawatirkan bikin pasif. Harus dibarengi pelatihan kebun gizi pekarangan,” saran Bambang.

Keempat, keamanan pangan. Daya tahan tubuh lansia rendah. Satu makanan basi bisa fatal. Mengawasi 280 + dapur MBG se-Kabupaten Bandung jadi PR besar. LLI minta kader lansia dilibatkan untuk food testing harian.
Kelima, data tumpang tindih. Ada Rantang Lansia Dinsos, permakanan Kemensos, PKH Lansia. “Tanpa sinkron DTKS + data LLI, ada yang dapat dobel, ada yang kelewat. Karena itu audit data wajib dilakukan,” tegasnya.
Untuk itu, dalam memperingati HLUN ke-30 ini, LLI Kabupaten Bandung merekomendasikan empat hal:
Pertama, menu khusus lansia. Libatkan ahli gizi dan LLI saat susun menu. Standar: 500-600 kkal, protein 15-20 gr, garam <5gr/hari, tekstur lunak. Kedua, distribusi humanis. Prioritaskan antar ke rumah untuk lansia disabilitas dan usia 70+. Gandeng Karang Taruna + kader LLI.
Ketiga, integrasikan pemberdayaan. 20% bahan baku wajib dari kelompok tani lansia. MBG + kebun gizi = mandiri. Keempat, monitoring ketat. Bentuk Tim Pengawas Gabungan LLI-Dinkes-BPOM tingkat kecamatan dan buka hotline pengaduan 24 jam.
“MBG pasca Covid itu ikhtiar mulia. Tapi memuliakan lansia bukan cuma soal isi piring, tapi isi hati. Di usia HLUN ke-30, kita ingin lansia Kabupaten Bandung bukan hanya panjang umur, tapi barokah, sehat, dan tetap bermartabat,” ujar Bambang.
Lily Setiadarma











