WartaParahyangan.com
BANDUNG – Rencana penyertaan modal Rp30 miliar Pemerintah Kabupaten Bandung kepada Perumda Air Minum Tirta Raharja pada 2027 dikritisi pegiat lingkungan.
Pegiat Lingkungan Kabupaten Bandung, Eyang Memet, menilai rencana tersebut harus dikaji ulang. Menurutnya, persoalan utama PDAM saat ini bukan hanya soal investasi jaringan, tetapi krisis ketersediaan air baku.
“Betul PDAM harus disoroti. Kondisi sumber-sumber air yang debit airnya menurun tajam. Seperti halnya SPAM Gambung, airnya sudah sangat kecil karena catchment area-nya sudah berubah menjadi lahan pertanian. Parah,” ujar Eyang Memet, kepada wartaparahyangan.com, Senin (14/9/2026).
Ia menyoroti alih fungsi lahan di kawasan resapan yang berdampak langsung pada berkurangnya debit mata air. Jika tidak segera ditangani, penyertaan modal besar-besaran dikhawatirkan hanya akan menjadi beban tanpa peningkatan pelayanan.

“Percuma suntik modal puluhan miliar kalau airnya tidak ada. Infrastruktur bagus tapi sumbernya kering, sama saja bohong. Harus ada kajian lingkungan menyeluruh dulu,” tegasnya.
Eyang Memet mendesak Pemkab Bandung dan DPRD untuk tidak hanya fokus pada aspek keuangan dan perluasan jaringan, tetapi juga serius melakukan konservasi daerah tangkapan air.
“PDAM dan pemerintah harus duduk bareng dengan pegiat lingkungan, petani, dan masyarakat. Selamatkan dulu sumber airnya, baru bicara investasi. Kalau tidak, 5-10 tahun ke depan kita akan krisis air bersih,” katanya.
Sebelumnya, DPRD Kabupaten Bandung juga menyoroti hal serupa. Sekretaris Pansus 6 DPRD H. Dadang Suryana menyatakan penyertaan modal harus jelas peruntukannya dan berdampak langsung pada pelayanan, bukan hanya sebatas investasi aset.
Lily Setiadarma

















