Satu Rasa, Beragam Budaya: Tembang Sunda Cianjuran Tampil di Panggung BRICS, Membawa Pesan Dialog Dunia

WartaParahyangan.com

RUSIA – Di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik global, Indonesia menghadirkan pendekatan kultural sebagai jembatan dialog antarbangsa melalui seni musik. Tembang Sunda Cianjuran tampil dalam ajang internasional BRICS Melody 2026 di Rusia, membawa pesan harmoni, saling pengertian, dan penghormatan terhadap keragaman.

Partisipasi ini menandai posisi strategis budaya sebagai medium diplomasi yang melampaui batas bahasa dan ideologi. Tembang Sunda Cianjuran tidak hanya dipresentasikan sebagai seni tradisi, melainkan sebagai ekspresi nilai-nilai filosofis yang hidup dalam masyarakat Sunda—yang menempatkan rasa, etika, dan keseimbangan sebagai fondasi relasi sosial.

Tembang Sunda Cianjuran sendiri merupakan tradisi vokal klasik yang lahir di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Abad ke-19, digagas oleh R.A.A. Kusumaningrat (Dalem Pancaniti), Bupati Cianjur Periode 1834–1862. Kesenian ini berkembang sebagai respons kultural atas perubahan zaman, sekaligus sebagai ekspresi batin yang halus, reflektif, dan sarat makna. Pada 2015, Cianjuran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Maestro Cianjuran, Yus Wiradiredja, menjelaskan bahwa filosofi yang dibawa dalam pertunjukan ini tidak semata estetika, melainkan etika hidup.

“Dalam tradisi Sunda dikenal lima tahapan kesadaran: niti harti (pengetahuan), niti surti (empati), niti bukti (pembuktian), niti bakti (pengabdian), dan niti sajati (kesejatian). Ini bukan hanya konsep budaya, tetapi jalan menuju harmoni manusia,” ujarnya saat dihubungi wartawan di Moskow, Rusia, Rabu (22/4/2026).

Secara musikal, Cianjuran mencerminkan prinsip dialogis—tidak ada dominasi antara vokal dan instrumen seperti kacapi, suling, dan kendang. Setiap unsur saling merespons dan memberi ruang, membentuk harmoni kolektif. Pola ini, menurut para seniman, dapat dibaca sebagai metafora relasi antarbangsa yang setara dan saling menghargai.

Indonesia diwakili oleh Grup Musik Sanggita, yang didirikan pada 1987 oleh Yus Wiradiredja. Dalam penampilannya di Rusia, Sanggita menghadirkan kombinasi pengalaman dan energi generasi muda, di antaranya Ganjar Purnama Wildan sebagai arranger serta Rizki Ferry Ramdani sebagai pemain perkusi.

Kelompok ini dijadwalkan tampil dalam rangkaian BRICS Melody 2026 di Ulyanovsk pada 19–22 April dan Moskow pada 24–25 April. Penampilan puncak akan berlangsung dalam Festival of Performers on Traditional Instruments of the BRICS Countries di National Center “Russia”, yang juga diisi dengan diskusi panel dan kelas master.

Ketua proyek Sanggita, Arif Budiman, menegaskan bahwa misi utama kehadiran mereka bukan sekadar tampil, melainkan menyampaikan pesan kemanusiaan. “Dunia tidak perlu seragam untuk bersatu. Yang kita butuhkan adalah saling menghargai dan saling menghormati. Dari situlah perdamaian bisa tumbuh,” katanya.

Melalui panggung BRICS, Tembang Sunda Cianjuran hadir sebagai representasi Indonesia yang menempatkan kebudayaan bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai bahasa hidup untuk membangun masa depan bersama—di mana perbedaan tidak dihapus, tetapi dirawat dalam dialog yang bermartabat.

Asep R. Rasyid

Leave a Reply