DPRD Bandung Sorot Rencana PM Rp30 Miliar ke PDAM, Tambahan Modal Harus Berdampak pada Pelayanan

WartaParahyangan.com

BANDUNG – Rencana penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Bandung kepada Perumda Air Minum Tirta Raharja kembali menjadi sorotan DPRD Kabupaten Bandung.

Seperti disampaikan anggota DPRD Kabupaten Bandung H. Dadang Suryana, S.IP, yang menegaskan, tambahan modal yang rencananya mencapai Rp30 miliar pada 2027 harus memiliki peruntukan yang jelas dan berdampak nyata terhadap peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Dadang Suryana yang juga Sekretaris Pansus 6 mengatakan, pembahasan penyertaan modal tersebut saat ini masih berlangsung. DPRD terlebih dahulu melakukan kajian, termasuk melalui kunjungan kerja ke sejumlah daerah untuk melihat pengelolaan dan penyertaan modal perusahaan daerah.

“Penyertaan modal untuk PDAM itu harus betul-betul ditinjau dari aspek peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Jangan hanya ditinjau daripada investasi saja,” ujar Dadang, kepada wartawan di sela kegiatan jalan santai di Soreang, Minggu (13/9/2026).

Ia mengatakan, berdasarkan ketentuan penyertaan modal, Pemkab Bandung masih memiliki kewajiban penyertaan modal dasar kepada PDAM Perumda Tirta Raharja hingga 2029. Dari total sekitar Rp369 miliar, penyertaan modal yang telah direalisasikan baru sekitar Rp183 miliar. Artinya masih terdapat sekitar Rp186 miliar yang harus dipenuhi hingga 2029.

Untuk 2027, lanjut Dadang, terdapat rencana penyertaan modal sekitar Rp30 miliar. Namun DPRD meminta PDAM terlebih dahulu memberikan penjelasan secara rinci mengenai penggunaan dana tersebut.

“Harus jelas dulu penggunaannya, pengalokasiannya. PDAM harus memberikan penjelasan dulu kepada kami, baru kami bisa merekomendasi,” katanya.

Anggota DPRD Kabupaten Bandung H. Dadang Suryana, S.IP.

DPRD juga menyoroti rencana pengembangan pelayanan di wilayah Kecamatan Margaasih dan Margahayu. Pasalnya, target pembangunan jaringan pelayanan yang sebelumnya ditetapkan belum sepenuhnya tercapai.

Dadang menilai persoalan utama PDAM di Kabupaten Bandung bukan semata-mata pemasaran atau penambahan pelanggan, melainkan keterbatasan ketersediaan air.

“Kalau di Semarang marketingnya bagus karena ketersediaan airnya ada. Namun di kita, kalau airnya tidak ada, itu yang jadi masalah. Air di kita masih kekurangan,” ujarnya.

Karena itu, rencana penambahan sumber air melalui penyertaan modal, termasuk sumber yang akan diambil dari Ciwidey, menurutnya harus terlebih dahulu melalui kajian teknis yang matang.

“Ini mudah-mudahan nanti dikaji. Bagaimana kajian teknisnya, memang betul-betul bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau tidak,” katanya.

DPRD, lanjut Dadang, tidak ingin penyertaan modal hanya berhenti pada penambahan aset atau investasi tanpa diikuti peningkatan pelayanan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Kalau pemanfaatannya belum bisa diperlihatkan, belum bisa dikaji secara teknis, ya nanti kita lihat,” tandasnya.

Lily Setiadarm