Badan Pangan Nasional Menggelar Gerakan Pangan Murah di Desa Lebakmuncang

WartaParahyangan.com

BANDUNG – Badan Pangan Nasional menggandeng Koperasi Sahabat Indonesia Jaya dan Pesantren Asy-Syakuro untuk menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM)ap di lapang Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jumat (29/8/2025).

Kegiatan yang masih menjadi rangkaian peringatan HUT RI ke-80 itu bertujuan untuk menjaga kestabilan harga pangan pokok.

Warga langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk membeli kebutuhan dengan harga lebih rendah dibanding pasar. Dengan demikian, program ini tidak hanya membantu rumah tangga menghadapi tekanan inflasi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan desa.

Kepala Bidang Distribusi, Konsumsi dan Keamanan Pangan Dispakan Kabupaten Bandung, A. Irman Firmansyah, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa banyak pihak ikut terlibat. Pesantren Asy-Syakuro mengajukan gagasan awal, lalu Badan Pangan Nasional menindaklanjuti ide tersebut, sementara Dispakan memberikan dukungan penuh.

Kepala Bidang Distribusi, Konsumsi dan Keamanan Pangan Dispakan Kabupaten Bandung, A. Irman Firmansyah, saat membuka Gerakan Pangan Murah di lapangan Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jumat (29/8/2025). Foto Lily Setiadarma

“Kami menghadirkan pangan murah agar warga bisa berbelanja dengan tenang. Harga beras SPHP hanya Rp12.000 per kilogram atau Rp60.000 per karung isi 5 kilogram. Untuk kegiatan ini kami menurunkan 2 ton stok agar masyarakat Lebakmuncang tercukupi kebutuhannya,” ujar Acep.

Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat sedang menyiapkan gerakan pangan serentak di seluruh kecamatan. Oleh karena itu, Dispakan Kabupaten Bandung masih menunggu kepastian titik lanjutan untuk wilayah Ciwidey.

Camat Ciwidey, Nardi Sunardi, S.E., M.Si., menilai antusiasme masyarakat sangat tinggi. Meskipun kegiatan baru melibatkan empat RW, jumlah warga yang datang membludak.

“Sejak pagi masyarakat berbondong-bondong membawa kantong belanja. Mereka menyerbu minyak goreng hingga ludes hanya dalam beberapa jam. Situasi ini membuktikan bahwa warga benar-benar membutuhkan pangan murah,” ujar Nardi.

Kepala Desa Lebakmuncang, Imas Masopah, menekankan pentingnya peran UMKM. Pihak desa mengajak warga untuk menjual hasil panen dan olahan lokal sehingga pengunjung memiliki banyak pilihan.

“Alhamdulillah, kami berhasil menciptakan sinergi. UMKM menjual brokoli, cabai rawit, dan sayuran lain seharga Rp5.000. Selain itu, warga juga menawarkan jagung ketan Pasir Kuda yang terkenal manis dan legit. Semua produk berasal langsung dari masyarakat Lebakmuncang,” ungkap Imas.

Nurlela, pemilik UMKM Dapur Opaltin Lebakmuncang, melihat kesempatan ini sebagai peluang memperluas pasar. Ia menghadirkan produk olahan stroberi seperti dodol, agar-agar, basreng, hingga kerupuk. Saat ini, produknya telah masuk toko oleh-oleh di Ciwidey, menembus pasar Wonosobo, dan juga dipasarkan secara daring.

“Saya berencana membuat varian baru seperti strawberry crispy. Kendala terbesar terletak pada modal dan mesin produksi. Namun, jika peralatan tersedia, saya yakin produk bisa berkembang lebih cepat,” tutur Nurlela.

Pemerintah Kabupaten Bandung menargetkan GPM berlangsung rutin di berbagai titik. Dengan begitu, warga memperoleh akses pangan murah, sementara UMKM lokal memiliki peluang lebih luas menjangkau pasar.

Lily Setiadarma

Leave a Reply