WartaParahyangan.com
BANDUNG – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Kinerja Terbaik di Aula SMPN 1 Ciwidey, Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan perwakilan enam SMP di Gugus Tiga SMP. Sekolah negeri dan swasta penerima BOS Kinerja Tahun 2026 ikut memperkuat kapasitas guru melalui kegiatan tersebut.
Kali ini, BBPMP Jabar mengarahkan materi pada penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Selain itu, kegiatan juga menitikberatkan tiga aspek utama, yakni literasi, numerasi, dan digitalisasi pembelajaran.
Melalui Bimtek tersebut, BBPMP Jabar mendorong sekolah memahami pemanfaatan dana BOSP Kinerja Terbaik secara tepat. Sekolah kemudian dapat menghubungkan penggunaan anggaran dengan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran.
Kepala SMPN 1 Ciwidey, Ahmad Rohman Somantri, S.Pd., M.M.Pd., melalui Panitia Bimtek Wiwin Kuraesin, S.Pd., mengatakan SMPN 1 Ciwidey menjadi penyelenggara kegiatan pada 13 Agustus 2026. “Tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, mutu sekolah, dan mutu anak dalam pembelajaran,” ujarnya.
Menurut Wiwin, Bimtek kali ini mengangkat materi literasi dan numerasi. Selanjutnya, sekolah juga akan mengembangkan materi digitalisasi serta melakukan pengimbasan kepada guru lainnya.
“Alhamdulillah, dengan diadakannya Bimtek seperti ini, pengetahuan guru-guru yang ikut bisa bertambah,” katanya.
Wiwin juga menegaskan bahwa kegiatan tidak hanya melibatkan SMP negeri. Sekolah swasta juga ikut mengambil bagian dalam proses penguatan kompetensi pendidik.
Enam sekolah yang masuk dalam kelompok tersebut terdiri atas SMPN 1 Ciwidey, SMPN 2 Ciwidey, SMP Al-Wafa, SMP Al-Ibda, SMP Swadaya Karya Rancabali, dan SMP Marhas Margahayu.

Sementara itu, narasumber BBPMP Jawa Barat, Dr. Ade Sunawan, M.Pd., yang menjabat sebagai Widya Prada Ahli Madya, menjelaskan bahwa pihaknya membawa materi penguatan literasi dan numerasi siswa.
Menurut Ade, sekolah perlu memperkuat literasi membaca dan numerasi karena kemampuan siswa pada dua aspek tersebut masih menghadapi tantangan. “Literasi itu sangat erat kaitannya dengan kemampuan pemecahan masalah,” ujar Ade kepada wartaparahyangan.com saat ditemui di sekolah tersebut.
Karena itu, guru perlu membangun kemampuan tersebut sejak proses pembelajaran berlangsung. Jika sekolah melakukan penguatan secara konsisten, siswa memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi persoalan dalam kehidupan dan dunia kerja.
Selanjutnya, Ade meminta guru menganalisis Rapor Pendidikan Tahun 2025. Guru perlu mencari aspek yang sudah kuat sekaligus mengidentifikasi bagian yang masih lemah.
Setelah menemukan kelemahan tersebut, guru dapat menyusun langkah perbaikan. Kemudian, guru menghubungkan strategi tersebut dengan proses pembelajaran pada mata pelajaran masing-masing.
Ade juga memberikan strategi kepada guru untuk memasukkan penguatan literasi dan numerasi ke dalam berbagai mata pelajaran. Dengan pendekatan tersebut, guru tidak hanya mengajarkan materi pokok, tetapi sekaligus melatih kemampuan membaca, memahami informasi, menghitung, dan memecahkan masalah.
“Kami memberikan tips-tips atau strategi kepada guru-guru berkenaan dengan bagaimana peningkatan kemampuan literasi membaca dan literasi numerasi siswa,” katanya.
Ade menilai guru dari enam sekolah menunjukkan antusiasme selama mengikuti Bimtek. Karena itu, ia berharap peserta segera menerapkan materi yang mereka peroleh di ruang kelas.
“Semoga ke depannya apa yang mereka dapatkan di kegiatan ini bisa diimplementasikan pada saat mereka melakukan pembelajaran,” ujar Ade.

Ia berharap penguatan tersebut memberikan dampak terhadap kemampuan siswa di Kabupaten Bandung. Ia menargetkan generasi mendatang memiliki kemampuan literasi membaca dan numerasi yang lebih kuat serta kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik.
Sementara itu, Pengawas SMP Kabupaten Bandung, R. Komarudin Saleh, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Pendidikan melalui BBPMP Jabar. “Kegiatan hari ini adalah kegiatan Bimtek terkait literasi dan numerasi,” katanya.
Menurut Komarudin, program tersebut menyasar enam sekolah dalam Gugus SMP Negeri 1 Ciwidey. Ia kembali menyebut SMPN 1 Ciwidey, SMPN 2 Ciwidey, SMP Al-Wafa, SMP Swadaya Karya Rancabali, SMP Marhas Margahayu, dan SMP Al-Ibda Soreang sebagai peserta.
Ia juga menjelaskan bahwa Kabupaten Bandung memiliki 37 SMP yang memperoleh program BOS Kinerja. Pemerintah pusat menentukan penerima berdasarkan hasil Rapor Pendidikan. “Ini tidak ada pengajuan dari Disdik. Ini berdasarkan penilaian dari Rapor Pendidikan dari pusat,” katanya.
“BOS Kinerja memiliki fokus khusus. Sekolah harus mengarahkan pemanfaatannya untuk program peningkatan mutu pendidikan,” ucap Komarudin.
Ada tiga sasaran utama yang menjadi perhatian. Pertama, sekolah memperkuat literasi dan numerasi. Kedua, sekolah meningkatkan digitalisasi pembelajaran. Ketiga, sekolah mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Internal.
Karena itu, Komarudin berharap semakin banyak SMP di Kabupaten Bandung memperoleh BOS Kinerja pada periode berikutnya. “Saya berharap ke depan sekolah-sekolah lain juga bisa mendapatkan BOS Kinerja,” ujarnya.
Menurut Komarudin, perluasan program tersebut dapat membuka lebih banyak peluang bagi sekolah untuk memperkuat mutu pendidikan. Namun, sekolah tetap harus menjalankan program sesuai tujuan dan sasaran peningkatan mutu.
Dengan menggabungkan literasi, numerasi, digitalisasi, dan SPMI, sekolah dapat memperkuat proses peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Lily Setiadarma

















