WartaParahyangan.com
CIANJUR – Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) tampaknya memang bukan sekedar mengumpulkan receh dari banyak orang, tapi lebih kepada upaya menggugah kembali rasa gotong royong masyarakat, yang diera digital ini mulai memudar.
Karena itulah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur merespon dengan cepat ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang Gerakan Poe Ibu. Pemkab Cianjur menindaklanjutinya dengan meluncurkan Gerakan Poe Ibu di halaman Pendopo Cianjur, Jumat (17/10/2025), yang secara daring diikuti seluruh perangkat daerah dan kecamatan se Kabupaten Cianjur.
Gubernur Jabar sendiri, melalui SE Nomor 149/PMD.03.04/KESRA tentang Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu), yang merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), pelajar, dan masyarakat untuk meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial serta memperkuat pemenuhan hak dasar di bidang pendidikan dan kesehatan yang masih terkendala keterbatasan anggaran dan akses.
“Gerakan ini merupakan inisiatif sosial yang menghidupkan kembali semangat rereongan atau gotong royong warga untuk membantu sesama, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan,” ujar Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian, didampingi Wabup Cianjur Abi Ramzi saat meluncurkan Gerakan Poe Ibu.
Menurut Bupati, gerakan yang lahir dari nilai-nilai luhur budaya Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih jagaan itu bukan pungutan atau kewajiban, melainkan ajakan sukarela untuk saling membantu.
“Kebersamaan kecil yang dilakukan banyak orang dapat membawa perubahan besar, terutama bagi warga tidak mampu yang membutuhkan bantuan cepat dan tepat,” ujar Bupati Wahyu.
Salah satu perangkat daerah yang meluncurkan gerakan tersebut yakni Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Cianjur. Peluncuran Gerakan Poe Ibu di lingkungan Diskominfo ini dipimpin Kepala Diskominfo Cianjur Rahmat Hartono di kantor Diskominfo setempat.
Menurut Rahmat Hartono, kegiatan tersebut merupakan tradisi lama di lingkungan Pemkab Cianjur yang kini kembali dihidupkan. Melalui Gerakan Poe Ibu, setiap pegawai secara sukarela menyisihkan uang sebesar seribu rupiah setiap hari, yang kemudian akan dikumpulkan dan dikelola oleh Sekretariat Daerah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Gerakan ini sederhana, tapi memiliki makna besar. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat, mulai dari kebutuhan kesehatan, dukungan bagi keluarga pasien, hingga membantu pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu,” ujarnya.
Rahmat berharap, Gerakan Poe Ibu dapat menjadi wadah penguatan nilai empati dan kebersamaan, sekaligus menjadi teladan bagi perangkat daerah lain dalam menumbuhkan budaya peduli sesama.
Asep R. Rasyid











