WartaParahyangan.com
KOTA SUKABUMI – Kecamatan Lembursitu mencatatkan capaian tertinggi dalam penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun 2025 se-Kota Sukabumi. Capaian tersebut dinilai sebagai lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, baik dari sisi nominal penerimaan maupun tingkat kepatuhan wajib pajak.
“Dari target Rp1,9 miliar dengan 16.373 ketetapan SPPT, alhamdulillah capaian kami mencapai Rp1.689.941.094,” ujar Camat Lembursitu, Yudi Sutriana, S.E, M.M, saat diwawancarai di kantornya, Kamis (22/1/2026).
Yudi menjelaskan, capaian tersebut menjadi sangat berarti jika dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya saat pengelolaan PBB masih berada di bawah UPT. Pada tahun 2024, penerimaan PBB Kecamatan Lembursitu masih berada di bawah angka satu miliar rupiah.
“Kalau dibandingkan tahun kemarin, saat masih dikelola UPT PBB, capaian kami hanya sekitar Rp986 juta. Sekarang melonjak menjadi 1,6 miliar,” katanya.
Menurut Yudi, secara persentase kenaikan penerimaan PBB di Kecamatan Lembursitu mencapai 71,37 persen, menjadikannya yang tertinggi di antara seluruh kecamatan di Kota Sukabumi. “Kalau dihitung dari 968 juta ke 1,6 miliar, kenaikannya mencapai 71,37 persen. Ini yang tertinggi dibanding kecamatan lain,” ungkapnya.
Meski demikian, Yudi mengakui bahwa capaian tahun berjalan murni masih berada di angka 57 persen dari target 2025, karena sebagian besar penerimaan berasal dari penagihan tunggakan. “Untuk tahun berjalan murni, kami baru di angka Rp1,112 miliar dari target Rp1,946 miliar. Jadi memang kami ini kebanyakan menagih tunggakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, tunggakan yang berhasil ditagih mayoritas berasal dari ketetapan kecil di bawah Rp10 juta, yang justru menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat tingkat bawah. “Tunggakan yang kami tarik itu sebagian besar di bawah 10 juta. Ini yang justru membuat kami bangga,” kata Yudi.
Dari sisi kepatuhan, Kecamatan Lembursitu mencatatkan angka di atas 100 persen. Dari total 16.373 SPPT, jumlah pembayaran bahkan melebihi ketetapan awal. “Untuk kepatuhan, dari 16.373 SPPT, realisasinya mencapai sekitar 107 persen. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat cukup tinggi,” ujarnya.

Yudi menyebut, keberhasilan tersebut tidak lepas dari inovasi pelayanan Si Pintar (Sistem Pelayanan Langsung Siap Antar), dengan pendekatan jemput bola langsung ke wilayah RW. “Kami membuka loket pelayanan langsung di seluruh 53 RW. Warga tidak perlu ke bank, tidak perlu antre, dan tidak kena biaya admin,” tutur Yudi.
Dalam pelaksanaannya, aparatur kecamatan dan kelurahan mendatangi warga secara langsung, dengan memanfaatkan sistem pembayaran QRIS yang ditangani oleh petugas. “Kami datang bersama aparatur kelurahan dan RW. Warga bayar langsung ke kami lewat QRIS. Saldo-nya ditanggung dulu oleh petugas,” jelasnya.
Selain PBB, Yudi juga menyampaikan bahwa Kecamatan Lembursitu meraih penghargaan sebagai PPATS terbaik se-Kota Sukabumi atas kontribusi dalam penerimaan BPHTB.”Kami juga menerima penghargaan sebagai PPATS terbaik, karena jumlah transaksi BPHTB terbanyak, mencapai 112 transaksi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh aparatur kecamatan dan kelurahan, bukan kerja individu. “Ini bukan kinerja camat semata, tapi kerja keras seluruh tim, lurah, RW, dan masyarakat,” katanya.
Terkait tunggakan PBB lama yang masih tersisa, Yudi menyebut nilainya di Kecamatan Lembursitu mencapai sekitar Rp5,5 miliar hingga Rp6 miliar, sebagian besar berasal dari wajib pajak besar. “Tunggakan terbesar justru dari wajib pajak besar, pemilik tanah skala besar, bukan warga kecil,” tegasnya.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Pendapatan Daerah dan mengusulkan agar surat penagihan ditandatangani langsung oleh Wali Kota Sukabumi. “Kami minta surat pemberitahuan tunggakan ditandatangani Pak Wali Kota. Mudah-mudahan ini bisa mengetuk kesadaran wajib pajak besar,” ujarnya.
Menghadapi tahun 2026, Kecamatan Lembursitu pun memasang target ambisius dengan menaikkan penerimaan PBB hingga Rp2,6 miliar, meski ketetapan awal hanya Rp1,9 miliar.
“Karena kami masih punya tunggakan sekitar Rp6 miliar, target kami 2026 naik menjadi Rp2,6 miliar,” ujar Yudi.
Jenal











