WartaParahyangan.com
CIANJUR – Tradisi Kuramasan yang digelar di Sungai Cipandak, Kampung Adat Miduana, Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Sabtu (14/2/2026), tidak hanya menjadi rangkaian ritual tahunan menjelang Ramadan, tetapi juga ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan diri, alam, dan komunitas.
Dewan Adat Kampung Adat Miduana, Abah Rustiman, menegaskan bahwa Kuramasan bukan sekadar kegiatan mandi bersama, melainkan bagian dari tata nilai yang diwariskan leluhur.
“Kuramasan itu bukan hanya membersihkan badan. Yang lebih penting adalah membersihkan niat dan pikiran. Leluhur mengajarkan bahwa sebelum memasuki bulan suci, manusia harus menenangkan diri, memaafkan, dan kembali menyadari hubungan dengan alam serta sesama,” ujar Abah Rustiman di sela kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Kuramasan selalu terkait dengan penghormatan terhadap sumber air dan lingkungan sekitar. Sungai, menurutnya, bukan hanya tempat, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
“Air ini sumber kehidupan. Kalau manusia merusak alam, maka kehidupan juga akan rusak. Karena itu, setiap tradisi di sini selalu mengingatkan agar manusia hidup selaras dengan alam, bukan menguasainya secara serakah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia selaku pendamping Seni Budaya di Kampung Adat Miduana, N. Wina Resky Agustina, menilai tradisi seperti Kuramasan memiliki nilai penting dalam konteks masa kini, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah arus perubahan sosial yang sangat cepat.

“Tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah pengetahuan hidup yang lahir dari pengalaman panjang manusia beradaptasi dengan alam dan zaman. Kuramasan mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kesadaran spiritual yang sangat relevan bagi masyarakat modern yang sering terjebak pada ritme hidup yang serba cepat,” ujarnya.
Menurut Wina, upaya pendokumentasian dan pengusulan tradisi Kuramasan sebagai Warisan Budaya Takbenda merupakan langkah penting agar pengetahuan lokal tidak hilang, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk memahami akar budayanya.
“Kita tidak sedang memuseumkan tradisi, tetapi menghidupkannya. Tradisi harus tetap bergerak bersama masyarakat, tetap dipraktikkan, dan terus dimaknai ulang sesuai kebutuhan zaman,” tambahnya.

Rangkaian Kuramasan tahun ini diikuti warga dari berbagai usia. Prosesi pembersihan diri di sungai, makan bersama di atas daun pisang, serta doa bersama menjadi bagian yang menyatukan masyarakat dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Selain diikuti warga dan tokoh adat, kegiatan tahun ini juga diramaikan oleh kehadiran para vlogger, aktivis media sosial, selebgram, kreator TikTok, pemerhati budaya, serta sejumlah akademisi yang turut melakukan pengamatan dan dokumentasi lapangan, termasuk peneliti yang berafiliasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Asep R. Rasyid

















