Polemik Alih Fungsi Rumah Pintar Jadi Kopdes, Warga Mekarsari Protes, Kades Sebut Sementara

WartaParahyangan.com

BANDUNG – Rencana pemanfaatan bangunan Rumah Pintar (Rupin) di Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, untuk Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) menuai pro dan kontra.

Warga mempersoalkan alih fungsi bangunan yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan belajar dan aktivitas sosial masyarakat tersebut. Bangunan rumah panggung itu merupakan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) Telkomsel yang diresmikan pada Desember 2018.

Salah seorang warga Kampung Gambung yang enggan disebutkan namanya mengatakan, warga keberatan jika Rupin dialihfungsikan menjadi tempat usaha koperasi.

“Tentu saja kami menentang dan tidak mengizinkan. Bangunan tempat belajar atau Rumah Pintar itu milik warga. Peruntukannya bukan untuk membuat Kopdes,” kata warga tersebut kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).

Kecurigaan warga muncul setelah melihat sejumlah perubahan fisik. Bangunan dicat merah putih, kamar mandi belakang diperluas, pagar taman dan bangku tembok di halaman ikut dicat serupa, serta terpasangnya plang bertuliskan Kopdes Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu.

“Ini sudah ada beberapa bulan lalu. Namun sekarang terhenti karena diprotes oleh kami. Kami juga enggak tahu tujuannya apa. Kok Rumah Pintar malah disulap jadi Kopdes, lagi pula ukurannya juga tidak terlalu besar kalau untuk sebuah koperasi,” ujarnya.

Menurut warga, setelah mendapat penolakan, rencana penggunaan Rupin sebagai lokasi Kopdes akhirnya dihentikan. Pihak desa disebut berencana membangun Kopdes di lahan perkebunan teh yang tidak jauh dari lokasi.

“Memang katanya enggak jadi di situ. Tapi plang Kopdes dan cat merah putihnya belum diganti lagi,” katanya.

Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu, Ferry Januar Pribadi.

Warga mengakui, dalam beberapa tahun terakhir Rupin memang tidak dimanfaatkan maksimal. Aktivitas belajar anak-anak dan kegiatan masyarakat yang dulu ramai saat ada relawan dari Kota Bandung, kini sudah tidak terlihat.

“Dulu tempat ini ramai oleh anak-anak dan warga. Tapi setelah tidak ada lagi relawan yang datang mengajar, akhirnya kosong,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, bangunan berukuran sekitar 10 x 5 meter dengan konstruksi rumah panggung dan lantai papan itu tampak kurang terawat, sepi tanpa aktivitas. Sejumlah genting di sayap kanan atap rusak dan terlepas, bale-bale dan halaman kotor berdebu, serta terdapat sampah di sekitar area. Bagian dalam bangunan kosong. Di halaman depan masih terdapat prasasti peresmian bantuan CSR Telkomsel 2018.

Meski tidak digunakan maksimal, warga berharap ada kejelasan status dan rencana pemanfaatan Rupin ke depan dengan melibatkan masyarakat penerima manfaat.

Sementara itu, Kepala Desa Mekarsari Ferry Januar Pribadi memberikan klarifikasi terkait polemik tersebut. Melalui pesan singkat WhatsApp Kamis (17/9/2026) malam, ia membenarkan pemanfaatan Rupin untuk Kopdes namun bersifat sementara.

“Ya betul itu dipake koperasi desa untuk sementara sebelum gedung kopdes jadi dibangun, itu sifatnya sementara. Lagian rumah pintar (rupin) daripada terbengkalai gak digunakan jadi dimanfaatkan dulu sementara kopdes,” kata Ferry.

Menurutnya, langkah tersebut diambil agar bangunan yang sudah lama kosong tidak semakin terbengkalai, sembari menunggu pembangunan gedung Kopdes yang baru di lahan perkebunan teh.

Dengan adanya penjelasan dari kedua pihak, diharapkan polemik alih fungsi Rumah Pintar di Kampung Gambung dapat diselesaikan melalui musyawarah bersama antara pemerintah desa dan warga agar pemanfaatannya tetap sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Lily Setiadarma