Dari Diskusi Publik PWI, Persoalan Anggaran Hantui Penyelenggaraan Porprov Jabar 2026

WartaParahyangan.com

BANDUNG – Persoalan anggaran menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat XV Tahun 2026, mencuat dalam Diskusi Publik PWI di Aula Sekretariat PWI Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (29/4/2026).

Dalam diskusi bertemakan “Mengawal Kebijakan Olahraga Jawa Barat” yang digelar oleh SIWO Jabar itu sejumlah pengurus provinsi (pengprov) cabang olahraga di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat, menyuarakan kegelisahannya jelang Porprov 2026 yang digelar pada 7–20 November 2026 di Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kota Depok sebagai tuan rumah utama.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga praktisi olahraga. Dari unsur pemerintah hadir Asisten Deputi Kemenpora Tri Winarno, dan Kadispora Jabar Hery Antasari. Dari akademisi, hadir Amung Ma’mun, dari UPI Bandung. Juga hadir pelatih taekwondo Taufik Krisna.

Di tengah persiapan yang terus berjalan, keterbatasan finansial dinilai berpotensi menghambat program pembinaan dan kesiapan atlet menuju ajang bergengsi tingkat provinsi tersebut.

Seperti disampaikan Ketua Umum Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Jawa Barat, Sugito. Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini cabang olahraga belum menerima Bantuan Operasional Kegiatan (BOK) dari KONI Jabar.

“Kami sangat berharap bantuan bisa segera dicairkan oleh Pemprov Jawa Barat, agar KONI bisa segera menyalurkan dukungan kepada cabang olahraga,” ujar Sugito dalam diskusi yang dipandu moderator wartawan senior Kesit Budi Handoyo.

Hal serupa disampaikan Ketua Harian Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jawa Barat, Sorta Mina. Ia menilai minimnya dukungan anggaran dapat berdampak langsung pada pencapaian prestasi, terlebih untuk cabang olahraga yang sulit menarik sponsor.

“Sampai saat ini, kami sangat bergantung pada bantuan dari KONI Jabar. Tanpa dukungan itu, pembinaan akan sulit berjalan optimal,” kata Sorta.

Meski menghadapi keterbatasan, ia menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk tampil maksimal di Porprov 2026. Namun, ia menekankan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana tetap menjadi faktor penting dalam menunjang performa atlet.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat, Hery Antasari, menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran bukan hanya terjadi di Jawa Barat, tapi juga disemua daerah, dan itu sebagai dampak dari kebijakan efisiensi yang berlaku secara nasional.

“Khusus di Jawa Barat, bukan berarti kita mengecilkan olahraga atau multievent. Namun saat ini pemerintah memiliki prioritas lain yang dampaknya lebih langsung dirasakan masyarakat,” jelas Hery.

Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa sektor olahraga akan kembali mendapat porsi lebih besar di masa mendatang. Ia juga mendorong seluruh pihak untuk tetap menjaga semangat dan mencari terobosan dalam pembiayaan olahraga.

Hery juga memastikan bahwa dana hibah untuk KONI Jawa Barat tahun 2026 sebesar Rp20 miliar telah dialokasikan dan tengah dalam proses pencairan. Namun untuk dana khusus pelaksanaan Porprov, ia belum dapat memastikan waktu realisasinya.

“Mudah-mudahan bisa segera terealisasi. Kalau sesuai rencana, Mei sudah bisa berjalan, tetapi tetap tergantung proses administrasi,” kata Hery seraya mengingatkan bahwa pembangunan olahraga tidak hanya berfokus pada prestasi, tapi juga pada pembangunan sumber daya manusia.

“Olahraga bukan hanya soal prestasi di bawah KONI, tetapi juga olahraga masyarakat seperti senam dan aktivitas kebugaran lainnya. Semua itu penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat,” tandasnya.

Lily Setiadarma

Leave a Reply