Pengukuhan Pengurus 2025–2030, MUI Jabar Tegaskan Persatuan Umat

WartaParahyangan.com

BANDUNG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk mendorong persatuan umat melalui pembacaan ikrar Fatwa MUI Jabar dalam rangkaian kegiatan Halal Bihalal, pengukuhan pengurus, serta Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) 2026 yang digelar di Masjid Raya Al Jabar, Kota Bandung, Minggu (19/4/2026).

Pada kesempatan itu MUI Jawa Barat menyerukan empat prinsip utama, yakni “Bersatu dalam akidah, berjamaah dalam ibadah, toleran dalam khilafiyah, dan bekerja sama dalam dakwah,” kata Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Barat Periode 2025–2030, Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., yang memimpin langsung pembacaan ikrar yang diikuti seluruh pengurus yang hadir.

Aang menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi fondasi moral dalam menjaga harmoni sosial keagamaan di tengah keberagaman. “Ikrar ini bukan sekadar seruan normatif, tetapi menjadi pedoman etik dalam merawat ukhuwah, memperkuat moderasi beragama, serta membangun tanggung jawab kolektif umat,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran ulama ke depan harus semakin strategis dalam menjembatani dinamika sosial, termasuk menghadirkan dakwah yang inklusif dan solutif. “Kita ingin memastikan bahwa kehadiran MUI mampu menjadi perekat umat, memperkuat solidaritas, sekaligus memberikan arah yang bijak dalam menyikapi perbedaan,” kata Aang Abdullah Zein.

Sementara itu, Ketua Komisi Informasi, Komunikasi dan Digitalisasi MUI Jawa Barat, Dr. Deden Nasihin, M.KP, menegaskan komitmen lembaganya untuk terlibat aktif dalam pembangunan daerah yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.

“MUI Jawa Barat siap mendukung dan berperan aktif dalam mewujudkan Jabar Istimewa, tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam pembangunan sosial, budaya, dan digital yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Deden, peran komunikasi publik menjadi sangat penting di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu disinformasi dan polarisasi. Ia menekankan bahwa MUI harus hadir sebagai penjernih informasi sekaligus penjaga etika komunikasi umat.

“Kami ingin memastikan bahwa ruang digital di Jawa Barat diisi dengan narasi yang menyejukkan, edukatif, dan memperkuat persatuan, bukan sebaliknya,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun daerah secara inklusif.

“Pembangunan Jawa Barat harus dilakukan secara kolaboratif, di mana nilai-nilai keagamaan tidak terpisah dari kebijakan publik. Lembur diurus, kota ditata—ini bukan sekadar slogan, tetapi arah pembangunan yang menempatkan keseimbangan antara tradisi dan modernitas,” ucapnya.

Lebih lanjut, Deden menambahkan bahwa digitalisasi dakwah menjadi salah satu fokus utama ke depan, terutama dalam menjangkau generasi muda.

“Kami akan mendorong penguatan literasi digital keagamaan, pengembangan konten dakwah yang relevan, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana memperluas kemaslahatan. Dengan demikian, MUI tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga di ruang-ruang digital yang menjadi medan interaksi umat saat ini,” tuturnya.

Asep R. Rasyid

Leave a Reply