Oleh: Idat Mustari*)
HAL yang menarik sambutan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 Bank BJB yang digelar di Bale Pakuan, Selasa 28 April 2026, mengatakan,” Orang bank harus bekerja dengan hati.” Kalimat itu adalah sangat Qur’ani. Sangat sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.
Rasulullah SAW pun bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Dosa adalah sesuatu yang meragukan dalam dirimu, walau orang-orang memberi fatwa yang membolehkan.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi). Hadis ini menunjukkan bahwa hati mampu menjadi panduan yang sangat kuat dalam mengambil keputusan, bahkan lebih jujur dari fatwa manusia.
Kenapa menjadi begitu penting bekerja dengan hati ? Di hati itu ada “nur” (cahaya, sinar). Ia selalu dihubungkan dengan kata “hati” sehingga menjadi “hati nurani”. Hati manusia itu bercahaya atau mendapat cahaya yang menyinari kehidupan.
Hati nurani dalam pandangan islam adalah bagian dari fitrah manusia—sifat bawaan yang Allah tanamkan sejak penciptaannya. Ia adalah pancaran cahaya Ilahi yang membantu manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7-8).
Hati nurani adalah suara batin yang menjadi penuntun moral dalam diri setiap manusia. Ia bekerja dalam diam, namun kekuatannya mampu membimbing seseorang membedakan antara yang benar dan yang salah, bahkan ketika dunia di sekelilingnya penuh kebisingan dan kebingungan nilai. Hati nurani tidak tunduk pada logika semata atau kepentingan pribadi; ia adalah bagian terdalam dari jiwa yang terhubung dengan kebenaran universal.
Namun hati nurani pun tak lagi bercahaya, manakala keserakahan, kelicikan bersemi di dalamnya. Hati menjadi gelap. Ia bisa tumpul, bisu, bahkan mati, jika terus-menerus diabaikan atau dibungkam oleh kepentingan duniawi. Bekerja dengan hati adalah berkerja dengan ihklas. Ihklas bukan berarti siap bekerja tanpa dibayar melainkan berusaha bekerja dengan baik untuk kepentingan orang banyak.
Pemimpin perusahaan yang bekerja dengan hati sangat beda dengan yang bekerja tanpa hati. Pemimpin yang bekerja dengan hati akan berusaha melakukan terbaik bagi perusahaan yang dipimpinnya. Sedang pemimpin perusahaan yang bekerja tanpa hati dipastikan tindakannya, kebijakannya didasari oleh vested interest (kepentingan diri sendiri). Dan tentu ini berdampak pada kinerja perusahaan.
Wallahu’alam semoga bermanfaat
*)Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris di BUMD Kabupaten Bandung

















