WartaParahyangan.com
BANDUNG – Untuk pertama kalinya puncak acara perayaan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat dimeriahkan dengan kirab budaya yang menampilkan aspek kebudayaan Jawa Barat secara lengkap. Ini tampak dari kirab budaya yang berlangsung di Kota Bandung, Selasa (19/8/2025).
Dalam kirab budaya itu, keberagaman budaya kerajaan yang pernah berdiri di tanah Jawa Barat ditampilkan oleh para kepala daerah dari 27 kota/kabupaten se Jawa Barat. Mereka menunjukkan seni budaya daerahnya masing-masing, yang secara umum menggambarkan sejarah dan budaya Jabar yang beragam dari Kerajaan Kacirebonan, Tarumanegara, Galuh Pajajaran, Pakuan, hingga Sumedang Larang.
Kabupaten Cianjur, misalnya. Dalam kirab budaya yang dimulai dari Gedung Merdeka hingga Gedung Sate, Kota Bandung itu, mengangkat kisah sejarah Serat Kalih Dalem Pamoyanan dengan tema “Serat Kalih: Simbol Diplomasi dan Persaudaraan”.
Kisah tersebut menggambarkan diplomasi Raden Wiramanggala kepada Mataram melalui simbol tiga bulir padi, tiga biji lada, dan tiga cabai rawit. Simbol-simbol itu bermakna bahwa meskipun rakyat Pamoyanan masih sedikit dan hasil bumi terbatas, namun keberanian dan keteguhan tetap menjadi pegangan dalam menjaga kehormatan daerah.
Pesan sejarah itu diwujudkan melalui parade busana tradisional, ornamen budaya, serta pertunjukan atraktif yang memikat perhatian masyarakat, yang ditampilkan Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian dan Wakil Bupati Cianjur Abi Ramzi, yang didampingi para kepala Perangkat Daerah Pemkab Cianjur.
Dalam kirab budaya itu, Bupati dan Wabup Cianjur menunggang kuda, sedangkan para kepala perangkat daerah berjalan kaki dengan mengusung berbagai jampana, antara lain jampana padi pandanwangi, jampana lampu gentur dan jampana tauco cianjur.

Partisipasi Cianjur dalam kirab budaya tersebut tidak hanya menjadi hiburan, namun juga sebagai sarana pelestarian warisan leluhur sekaligus memperkenalkan identitas daerah ke tingkat provinsi.
Kabupaten Cianjur berharap dapat memberikan inspirasi dan mempertegas bahwa warisan budaya adalah kekuatan utama dalam membangun daerah serta menjaga kebersamaan di Jawa Barat.
Kirab budaya yang sangat meriah itu dimulai pukul 15.00 – 18.00 WIB, dengan rute yang dilalui mulai dari Gedung Merdeka – Jalan Soekarno – Jalan Naripan – Jalan Braga – Jalan Suniaraja (Viaduct) – Jalan Wastukencana – Jalan R.R.E Martadinata – Jalan H. Juanda – Jalan Diponegoro – dan berakhir di Gedung Sate.
Di sepanjang rute karnaval, masyarakat Kota Bandung menyambut iring-iringan dengan antusias. Antara lain iring-iringan 41 ekor kuda yang ditunggangi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, Wagub Jabar Erwan Setiawan, Sekda Jabar Herman Suyatman, serta para bupati, wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota se Jawa Barat. Tak ada kendaraan bermotor dalam kirab budaya sepanjang lebih dari 4 km ini.
Momentum Membangun Jabar
Sebelum kirab budaya, dilaksanakan Rapat Paripurna DPRD Jabar dalam rangka memperingati Hari Jadi Jabar ke-80. Rapat paripurna ini terasa istimewa karena dilaksanakan di Gedung Merdeka.
Juga peserta rapat seluruhnya menggunakan pakaian adat Sunda, mulai dari para tokoh, anggota DPR-DPD RI, mantan Gubernur Jabar, bupati/wali kota se-Jabar, Forkopimda, sampai para kepala desa/lurah. Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka yang juga hadir, menjadi salah satu pembaca sejarah Jabar.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengajak kepada seluruh masyarakat untuk menguatkan komitmen bersama membangun Jabar yang istimewa, lembur diurus kota ditata.
“Mari kita bersama membangun Jabar dengan paheuyeuk-heuyeuk leungeun, paantay-antay tangan, sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Semoga pembangunan di Jabar lembur diurus kota ditata adalah rangkaian lagu yang tidak pernah berakhir,” ujar KDM, sapaan akrab Kang Dedi Mulyadi.
KDM mengingatkan kembali bahwa tujuan bekerja membangun Jabar sebagai bentuk pengabdian untuk tatar Jawa Barat dalam menghilangkan kebodohan, mengangkat derajat orang miskin dan anak yatim sebagai sendi utama membangun kemakmuran bagi Jabar.
“Kerangka bijak inilah yang harus dibangun di antara kita. Kita membangun bukan untuk 5 tahun atau 10 tahun, dan bukan untuk kita, tapi kita membangun untuk anak cucu kita. Apa yang kita titipkan untuk generasi Jabar ke depan kalau kita tidak punya nilai-nilai filosofi besar dan mendasar,” ujar KDM.
Ia meyakini, perjalanan 6 bulan kepemimpinannya bersama Wagub Erwan Setiawan adalah perjalanan yang baru meletakkan kerangka dasar, tetapi sudah terlihat hasilnya.
“Saya meyakini perjalanan 6 bulan saya memimpin dengan Kang Erwan adalah perjalanan yang baru meletakkan kerangka dasar, apa yang 6 bulan kami raih bukan hasil kami, tapi hasil seluruh rakyat Jabar,” katanya.
Asep R. Rasyid











