WartaParahyangan.com
BANDUNG – Ribuan buruh di Kabupaten Bandung memperingati May Day 2026 dengan aksi berbeda. Sekitar 1.000 pekerja dari berbagai serikat turun membersihkan sampah di sekitar kompleks kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Soreang, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan bertajuk “Eco Walker Bandung Bedas Bersih-bersih Sampah” itu menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tingkat Kabupaten Bandung 2026. Selain menumbuhkan solidaritas pekerja, aksi ini juga menegaskan komitmen Pemkab Bandung dalam menangani darurat sampah.
Bupati Bandung Dadang Supriatna, yang hadir dalam kegiatan itu menegaskan hubungan pemerintah, perusahaan, dan pekerja di Kabupaten Bandung berjalan dengan pola kolaboratif, bukan otoriter.
“Semua komponen, termasuk serikat buruh, aktif berkoordinasi dan mencari solusi, bukan mencari masalah,” ujar Dadang.
Ia menyebut perusahaan dan pekerja saling membutuhkan. Kemajuan perusahaan akan berdampak langsung pada kesejahteraan buruh, sehingga hak-hak pekerja wajib dipenuhi, termasuk kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
“Perusahaan wajib melengkapi BPJS karena itu hak pekerja. Kami terus monitoring bersama serikat pekerja,” tegasnya.
Pemerintah daerah, kata Dadang, juga siap turun tangan menjadi fasilitator jika muncul persoalan hubungan industrial agar cepat terselesaikan.

Di sela kegiatan, Dadang juga menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Bandung Raya. Kabupaten Bandung menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari, tapi baru 500 ton yang bisa dikelola melalui daur ulang. “Berarti masih ada 1.300 ton sampah yang belum tertangani maksimal setiap hari,” katanya.
Untuk itu, Pemkab Bandung mendorong perusahaan mengelola sampahnya sendiri, salah satunya lewat pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara. Perusahaan yang mengelola sampah juga akan mendapat insentif kebijakan pajak.
Ia menyebut empat langkah penanganan darurat sampah yang dijalankan. Pertama, dengan melibatkan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah karena memiliki nilai ekonomi. Kedua, memperkuat koordinasi dengan offtaker, seperti melibatkan koperasi dan BUMDes di desa untuk mengelola sampah dari hulu ke hilir.
Ketiga, meminta bantuan mesin pengolahan ke Kementerian Lingkungan Hidup untuk memaksimalkan 172 TPS3R, dan keempat, memperkuat edukasi masyarakat agar budaya pilah sampah dimulai dari rumah tangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung H. Ruli Hadiana, yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyebut Eco Walker adalah ajakan agar masyarakat lebih peduli sampah.
“Kabupaten Bandung menghasilkan 1.820 ton sampah per hari, sementara hanya dibatasi membuang 280 ton ke TPA Sarimukti dan Legok Nangka. Sisanya, sekitar 1.000 ton lebih, harus diolah sendiri,” katanya.
Ia menyebutkan, saat ini Kabupaten Bandung memiliki 3 TPST, 178 TPS3R dengan 76 yang aktif, dan 2 juta Lubang Cerdas Organik. Namun, fasilitas itu belum berjalan maksimal.

“Kita harus rubah mindset dari membuang menjadi memilah. Setiap sumber sampah harus mengolah sendiri,” tegas Ruli seraya mengajak warga mulai memilah sampah organik dan anorganik di rumah, serta mengolah sampah organik dengan komposter atau LCO.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung Dadang Komara menjelaskan bahwa kegiatan Eco Walker menjadi menutup rangkaian peringatan May Day 2026 di Kabupaten Bandung. Ia pun mengapresiasi 1.000 pekerja yang turun langsung membersihkan area Pemda dan jalan raya sekitar.
Sementara itu, Ketua Panitia May Day Kabupaten Bandung, Dede Agus Kusriana, menjelaskan kegiatan Eco Walker melibatkan sekitar seribu buruh dari berbagai serikat pekerja di Kabupaten Bandung.
Panitia membagi peserta ke dalam empat zona agar proses pembersihan sampah berjalan lebih efektif.
Zona pertama bergerak dari kawasan kantor Pemkab Bandung menuju Pasar Soreang. Selanjutnya, zona kedua bergerak dari kawasan Pemda menuju arah Tol Soroja.
Kemudian, zona ketiga bergerak menuju kawasan Gading Tutuka-Kopo. Sedangkan zona keempat bergerak dari Pemda Soreang menuju arah Sadu.
“Kami membagi seribu peserta ke empat zona. Setiap zona diisi sekitar 250 peserta agar gerakan bersih-bersih berjalan maksimal,” ujar Dede Agus Kusriana.

Selain itu, pihak kepolisian juga ikut membantu pengamanan dan pengaturan kegiatan di seluruh zona Eco Walker.
Dede menambahkan kegiatan tersebut tidak hanya memperingati May Day, tetapi juga memperkuat kepedulian pekerja terhadap lingkungan.
“Bandung Bedas Asri dan bebas sampah menjadi semangat utama kegiatan hari ini,” katanya.
Camat Soreang Haris Taupik mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, Soreang sebagai kawasan perkotaan padat menghadapi tantangan besar soal sampah. “Paradigmanya harus berubah. Sampah harus dipilah dan diolah agar bermanfaat,” ujarnya.
Ketua PC FSPPP-SPSI Kabupaten Bandung Itep Zaeni mengapresiasi dukungan Pemkab Bandung selama 14 tahun terhadap serikat pekerja. Ia menyebut dukungan itu membuat hubungan pekerja dan pemerintah berjalan harmonis.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Bandung berharap May Day tidak hanya jadi seremoni, tapi melahirkan gerakan nyata untuk memperkuat solidaritas pekerja dan kepedulian lingkungan. Targetnya, lahir budaya pengelolaan sampah yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.
Lily Setiadarma











