WartaParahyangan.com
BANDUNG – Sekolah Komunitas Kampung Main (SKKM) Kober Rosella 2026 menggelar acara kelulusan bertajuk “Ngarawat Cagar Budaya, Ciriwanci anu Sajati, Gumelarna Nonoman Sinatria Tatar Pasundan” di Kampung Pangajara RT 05 RW 07, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026).
Mengusung tagar #KelulusanTanpaToga, sebanyak 27 siswa angkatan 2026 tampil mengenakan busana adat Sunda, bukan toga.
Kepala Kober Rosella, Ahadiat, S.Pd., menegaskan konsep dasar sekolahnya adalah “bermain bermakna”.
“Ilmu datangnya dari alam. Kami gali ilmu yang tidak tersurat atau tersirat supaya anak memahami dan menghargai tatanan alam. Bekal utama dari Kober Rosella adalah membangun kesadaran butuhnya pendidikan,” ujar Ahadiat.

Tema “Ciriwanci Nusa Jati, Ngarawat Cagar Budaya Sunda” dipilih agar anak dikenalkan sejak dini untuk ngamumule atau memelihara adat budaya Sunda. “Menjunjung tinggi budaya adalah ciri utama keturunan Tatar Pasundan,” katanya.
Ahadiat juga menekankan pendidikan harus berkesinambungan antara sekolah dan orang tua. “Guru yang seutuhnya adalah orang tua. Kami hanya membantu menstimulus agar anak punya cara pandang bijak menyikapi kehidupan, bukan sekadar akademis,” ujar Ahadiat.
Meski diminati, Kober Rosella membatasi jumlah siswa karena keterbatasan sarana prasarana. Saat ini sekolah memiliki 2 lokal dengan total 66 siswa. “Idealnya pendidikan model kami butuh lahan luas supaya anak bisa mengeksplor alam. Banyak yang mau daftar, tapi kami batasi dulu,” jelasnya.
Penilik PAUD Kecamatan Pasirjambu, Erni Nuryani, S.Pd., mengapresiasi konsep sederhana bernuansa Sunda tersebut.

“Untuk saat ini pengetahuan anak tentang Sunda, terutama bahasa, mulai berkurang karena sehari-hari lebih pakai Bahasa Indonesia. Kegiatan seperti ini bagus untuk mengenalkan kembali Bahasa Sunda,” kata Erni yang membina 45 lembaga PAUD, Pos PAUD, TAAM, dan Bambim di Pasirjambu.
Penasehat Kober Rosella, Rd. Didoh Sadiah, A.Md., berharap guru-guru Rosella tetap semangat dan pemerintah lebih mengutamakan kesejahteraan guru. “Memang seharusnya seperti ini,” ujarnya menanggapi konsep kelulusan tanpa toga.
Orang tua siswa, Sri Agung Ratria Wingking, menyebut Kober Rosella istimewa. “Fokusnya ke motorik, tidak ditekan calistung, tapi anak saya masuk SD langsung bisa baca. Gurunya paham cara mengajar anak kecil, kegiatannya lebih ke alam. Temanya selalu Nusantara, merakyat, tidak glamor,” tuturnya.
Acara kelulusan ini menjadi wujud komitmen Kober Rosella melestarikan budaya Sunda sekaligus menanamkan pendidikan berbasis alam dan karakter sejak usia dini.
Lily Setiadarma

















