Rawat Warisan Leluhur, Ribuan Warga Cianjur Saksikan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda

WartaParahyangan.com

CIANJUR – Ribuan warga memenuhi sejumlah ruas jalan di kota Cianjur untuk menyaksikan Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran bagian dari Milangkala Tatar Sunda, Rabu (6/5/2026) malam.

Kirab budaya yang menghadirkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake sebagai simbol kebesaran warisan leluhur Sunda itu diarak secara sakral menggunakan Kereta Kencana Ki Jaga Raksa, dimulai dari Lapang Taman Prawatasari, Joglo, selanjutnya menyusuri jalan-jalan utama di kota Cianjur, dan berakhir di Pendopo Cianjur.

Di belakang Kereta Kencana Ki Jaga Raksa, mengikuti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, dan Wakil Bupati Cianjur Abi Ramzi. Ketiganya menunggang kuda.

Tampak juga dalam kirab tersebut jajaran Forkopimda Cianjur seperti Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Metty Triantika, Dandim 0608/Cianjur Letkol Inf Bistok Barry Simarmata, dan Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi, para kepala perangkat daerah, budayawan dan tokoh masyarakat.

Dalam kirab budaya yang bertemakan “Ajeg Dangiang Cianjur” yang memiliki arti “Tegaknya Wibawa/Martabat Cianjur” tersebut, tampil berbagai kesenian khas dari 27 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat.

Kabupaten Cianjur sendiri menghadirkan kesenian Ngarak Posong yaitu tradisi perpaduan antara seni pertunjukan, ungkapan rasa syukur, dan kearifan lokal masyarakat, khususnya warga Kecamatan Cibeber yang selama ini menjadi salah satu sentra kuliner belut unggulan di Kabupaten Cianjur. Kesenian ini ditampilkan oleh Sanggar Seni Hibar dan Sanggar Sawargi.

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian (kanan) dan Wabup Cianjur Abi Ramzi menunggang dalam acara kirab budaya di Cianjur, Rabu (6/5/2026) malam. Foto cianjurkab.go.id

Kemudian, posong, ini merupakan alat tangkap tradisional belut yang ramah lingkungan dan telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat, khususnya setelah masa panen raya.

Tampaknya memang tingginya partisipasi masyarakat dalam kirab budaya tersebut menunjukkan kuatnya komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya. Kehadiran warga di sepanjang rute kirab tidak hanya menjadi bentuk dukungan, tetapi juga wujud nyata kecintaan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Bagi Pemkab Cianjur pun, pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan daerah. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sarana edukasi sekaligus memperkuat identitas lokal, khususnya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan menjaga budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.

Setelah melaksanakan kirab budaya tersebut, rombongan Gubernur dan Bupati menyapa dan berdialog dengan warga di halaman Pendopo Cianjur yang juga diisi dengan penampilan kesenian khas Jawa Barat.

Dimulai dari Sumedang

Kirab budaya di Cianjur tersebut merupakan tempat kelima dalam rangkaian Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran dalam rangka Milangkala Tatar Sunda “Nyuhun Buhun, Nata Nagara”.

Milangkala Tatar Sunda tersebut ditetapkan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda yang diperingati setiap tanggal 18 Mei. Karena itu, Milangkala Tatar Sunda tahun ini menjadi tonggak kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat Jawa Barat untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur budaya Sunda; dari sejarah, tradisi, hingga jati diri urang Sunda yang terus hidup dan berkembang.

Foto jabarprov.go.id

Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar, kirab budaya menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam membangun Jawa Barat secara menyeluruh, tidak hanya infrastruktur tetapi juga manusia dan kebudayaannya.

“Melalui kirab budaya ini, masyarakat dapat melihat langsung komitmen Pak Gubernur dalam pembangunan manusia dan kebudayaan, sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM serta pembangunan infrastruktur di Jawa Barat,” ujarnya.

Untuk tahun ini Milangkala Tatar Sunda berlangsung pada 2–18 Mei 2026, menghadirkan rangkaian kirab budaya yang penuh makna, menyusuri jejak sejarah dan warisan leluhur Sunda, dan napak tilas itu dimulai dari Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5/2026), dengan Kirab Mahkota Binokasih. Mahkota yang terbuat dari emas ini selanjutnya dibawa dalam kirab budaya di sejumlah kota/kabupaten.

Mahkota yang memiliki sebutan lengkap Binokasih Sanghyang Pake tersebut menyimpan makna kehidupan adiluhung. Seperti disampaikan Radya Anom Karaton Sumedang Larang Luky Djohari Soemawilaya, yang mengatakan bahwa makna adiluhung terkandung dari segi nama dan bentuk mahkota.

Binokasih berarti kasih sayang, sedangkan sanghyang pake artinya dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, nama Binokasih Sanghyang Pake mengandung makna kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kasih sayang harus dijadikan sumber tindakan karena dari kasih sayang melahirkan nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, adil dan bijaksana,” ujar Luky, dikutip dari jabarprov.go.id.

Mahkota Binokasih saat diarak dalam kirab budaya di Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5/2026). Foto jabarprov.go.id

Dari segi bentuk, Mahkota Binokasih juga menyimpan makna mendalam. Mahkota ini memiliki tiga susunan yang merupakan representasi dari konsep Sunda Tritangtu. Konsep ini membangun pemikiran tentang silih asah, silih asih, silih asuh, yang artinya saling berbagi ilmu, menyayangi dan membimbing.

Adapun wujud hias bunga wijaya kusuma dan burung julang dalam Mahkota Binokasih menggambarkan makna kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan itikad. “Jadi, folosofi yang terkandung dalam mahkota ini menyimpan pesan bagi kita yang hidup,” kata Luky.

Melalui Kirab Mahkota Binokasih, makna kehidupan adiluhung dalam Mahkota Binokasih ingin disampaikan kepada masyarakat. Dengan demikian, maknanya dapat diterapkan dari generasi ke generasi.

Rangkaian kirab budaya di Sumedang tersebut diawali dengan prosesi penyerahan Mahkota Binokasih ke dalam kereta kencana di halaman Museum Geusan Ulun, disaksikan langsung Raja Sumedang H.R.I Lukman Soeriadisoeria dan jajarannya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi didampingi Wakil Gubernur Erwan Setiawan, Sekda Jabar Herman Suryatman, dan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Pada kesempatan itu, Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada keluarga besar Keraton Sumedang Larang atas dukungan dalam pelaksanaan kirab tersebut. “Terima kasih telah memberi ruang bagi kita untuk bersama-sama mengembalikan karisma mahkota Indonesia,” ujar Dedi.

Ia juga mengatakan, kegiatan pawai Mahkota Binokasih sudah sering dilakukan di Sumedang dengan menggunakan mobil Jeep. Namun, tahun ini mahkota diarak dalam prosesi kebudayaan.

Foto Disparbud Jabar

“Mulai tahun ini Mahkota Binokasih diarak, bukan lagi pakai mobil Jeep, tetapi dengan acara kebudayaan yang berasal dari nilai leluhur kita, dibawa keliling Jabar. Mampir di delapan tempat, kemudian puncaknya nanti di Kota Bandung menuju Gedung Sate, dan kemudian nanti kembali lagi ke Sumedang,” ujarnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB itu berakhir sekitar pukul 22.00 WIB. Antusiasme masyarakat terus terlihat hingga lokasi akhir, di mana digelar pertunjukan seni dan musik tradisional yang turut dihadiri Dedi bersama putrinya, Ni Hyang.

Pertunjukan Kolosal Kebudayaan

Dari Sumedang, Napak Tilas Padjadjaran yang mengarak Mahkota Binokasih bergerak menuju Kawali, Ciamis, pada hari Minggu (3/5/2026). Selanjutnya, pada Senin (4/5/2026) malam menuju ke Kampung Naga di Tasikmalaya.

Pada Selasa (5/5/2026), kirab budaya mampir di Kabupaten Garut. Ini merupakan titik tambahan dalam kirab budaya tersebut untuk memenuhi permintaan warga Garut setelah menyaksikan kemeriahan kirab serupa di Kabupaten Sumedang, Ciamis dan Tasikmalaya.

Dari Garut, kirab berlanjut ke Kabupaten Cianjur (6/5/2026), selanjutnya ke Kota Bogor (8/5/2026), Kota Depok (9/5/2026), Kabupaten Karawang (10/5/2026), Kota Cirebon (11/5/2026), dan pada Minggu (17/5/2026) malam, Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda akan berlangsung pertunjukan kolosal kebudayaan di Gedung Sate, Kota Bandung.

Acara tersebut akan melibatkan seluruh elemen masyarakat, komunitas budaya, sejarawan, tokoh adat, Forkopimda, hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi serta Wakil Gubernur Erwan Setiawan.

Dari berbagai sumber.

Asep R. Rasyid

Leave a Reply